Senin, 06 Maret 2017

Pengertian Bakteri Gram Positif dan Negatif


Pada tahun 1884, seorang dokter dan Denmark, Hans Christian Gram, mengembangkan teknik untuk membedakan jenis bakteri berdasarkan ketebalan lapisan peptidoglikan pada dinding sel dengan sistem pewarnaan. Bakteri diwarnai dengan zat warna violet dan yodium, kemudian dibilas (dicuci) dengan alkohol, dan diwarnai sekali lagi dengan zat warna merah.
Bila bakteri menunjukkan warna ungu, maka dikelompokkan pada jenis bakteri Gram positif, dan bila bakteri menunjukkan warna merah maka dikelompokkan pada jenis bakteri Gram negatif. Namun, ada pula bakteri yang pada usia tertentu berubah dari Gram positif menjadi Gram negatif, yang disebut Gram variabel. Contoh bakteri Gram variabel, yaitu bakteri yang tergolong famili Bacillaceae.
Bakteri Gram positif adalah bakteri yang dinding selnya menyerap warna violet dan memiliki lapisan peptidoglikan yang tebal. Contoh bakteri Gram positif, yaituActinomyces, Lactobacillus, Propionibacterium, Eubacterium, Bifidobacterium, Arachnia, Clostridium, Peptostreptococcus, dan Staphylococcus.

Ciri-ciri Bakteri Gram Positif

  • Dinding sel
Homogen dan tebal (20-80 nm) sebagian besar tersusun dari peptidoglikan sebagian lagi terdiri dari polisakarida lain dan asam teikoat.
Advertisement
  • Bentuk sel
Bulat, batang atau filamen.
  • Reproduksi
Pembelahan biner.
  • Metabilosme
  • Alat gerak
Kebanyakan nonmotil, bila memiliki motil maka tipe falgelanya adalah petritrikus.

Contoh Bakteri Gram Positif

  1. Clostridium tetani
Bentuk batang lurus, langsing, berukuran panjang 2-5 mikron, lebar 0,4-0,5 mikron, dapat bergerak, termasuk gram positif anaerob berspora, membentuk exotoxin yang disebut tetanospasmin (tetanus spasmin), dan ketika bakteri ini mengeluarkan eksotoxin maka akan menghasilkan 2 eksotoxin yaitu tetanospasmin dan tetanolisin.
Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase, tidak memecah protein dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa juga tidak menghasilkan gas H­2S. Menghasilkan gelatinase, dan indol positif. Spora dari Clostridium tetaniresisten terhadap panas dan juga biasanya terhadap antiseptis. Sporanya juga dapat bertahan pada autoclave pada suhu 249.8°F (121°C) selama 10–15 menit. Juga resisten terhadap phenol dan agen kimia yang lainnya. Timbulnya tetanus ialah terutama oleh clostiridium tetani yang didukung oleh adanya luka yang dalam dengan perawatan yang salah.
  1. Bacillus cereus
Bacillus cereus telah dikenali sebagai salah satu penyebab keracunan pada makanan sejak tahun 1955, sejak saat itu mikroorganisme ini telah menarik banyak perhatian dan menjadi salah satu penyebab keracunan pada pangan yang termasuk sering ditemukan.
Bacillus cereus merupakan golongan bakteri Gram-positif (bakteri yang mempertahankan zat warna kristal violet sewaktu proses pewarnaan Gram), aerob fakultatif (dapat menggunakan oksigen tetapi dapat juga menghasilkan energi secara anaerobik), dan dapat membentuk spora (endospora).
Spora Bacillus cereus lebih tahan pada panas kering daripada pada panas lembab dan dapat bertahan lama pada produk yang kering. Selnya berbentuk batang besar (bacillus) dan sporanya tidak membengkakkan sporangiumnya.
  1. Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok, dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm. S. aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37oC dengan waktu pembelahan 0,47 jam. S. aureus merupakan mikroflora normal manusia. Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran pernapasan atas dan kulit.
  1. Clostridium perfringens
Clostridium perfringens adalah spesies bakteri gram-positif yang dapat membentuk spora dan menyebabkan keracunan makanan. Beberapa karakteristik dari bakteri ini adalah non-motil (tidak bergerak), sebagian besar memiliki kapsul polisakarida, dan dapat memproduksi asam dari laktosa. C. perfringens dapat ditemukan pada makanan mentah, terutama daging dan ayam karena kontaminasi tanah atau tinja. Bakteri ini dapat hidup pada suhu 15-55 °C, dengan suhu optimum antara 43-47 °C. Clostridium perfringens dapat tumbuh pada pH 5-8,3 dan memiliki pH optimum pada kisaran 6-7. Sebagian C. perfringens dapat menghasilkan enterotoksin pada saat terjadi sporulasi dalam usus manusia.

Bakteri Gram negatif

Bakteri Gram negatif adalah bakteri yang dinding selnya menyerap warna merah, dan memiliki lapisan peptidoglikan yang tipis. Lapisan peptidoglikan pada bakteri Gram negatif terletak di ruang periplasmik antara membran plasma dengan membran luar.
Contoh bakteri Gram negatif, yaitu Azotobacter, Rhizobium leguminosarum, Neisseria gonorrhoeae, Haemophilus influenzae, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhi, dan Helicobacter pylori.
Bakteri Gram negatif yang bersifat patogen lebih berbahaya daripada bakteri Gram positif, karena membran luar pada dinding selnya dapat melindungi bakteri dan sistem pertahanan inang dan menghalangi masuknya obat-obatan antibiotik. Senyawa lipopolisakarida pada membran luar bakteri Gram negatif dapat bersifat toksik (racun) bagi inang.

Perbedaan Bakteri Gram Positif (+) dan Gram Negatif (-)

  • Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya.  Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi peptidoglikan yang tebal  sedangkan bakteri negatif lapisan peptidoglikogennya tipis.
SifatGram positifGram Negatif
  • hanya mempunyai membran plasma tunggal yang dikelilingi dinding sel tebal berupa peptidoglikan.
  • Sekitar 90 persen dari dinding sel tersebut tersusun atas peptidoglikan sedangkan sisanya berupa molekul lain bernama asam teikhoat.
  • Memiliki sistem membran ganda di mana membran pasmanya diselimuti oleh membran luar permeabel.
  • Bakteri ini mempunyai dinding sel tebal berupa peptidoglikan, yang terletak di antara membran dalam dan membran luarnya
Komposisi dinding selKandungan lipid rendahLipid tinggi
Ketahanan terhadap pen isilinLebih sensitifLebih tahan
Penghambatan warna basaLebih dihambatKurang dihambat
Kebutuhan nutrienKompleksRelatif sederhana
Ketahanan terhadap perlakuan fisikLebih tahanKurang tahan

Bakteri Gram Positif dan Bakteri Gram Negatif (Mikrobiologi Dasar)

  • Bakteri  gram-positif
    Adalah bakteri yang mempertahankan zat warna metil ungu sewaktu proses pewarnaan Gram. Bakteri jenis ini akan berwarna biru atau ungu di bawah mikroskop, sedangkan bakteri gram-negatif akan berwarna merah atau merah muda. Perbedaan klasifikasi antara kedua jenisbakteri ini terutama didasarkan pada perbedaan strukturdinding sel bakteri.bakteri 1
Karakteristik bakteri gram positif :
*Memiliki cytoplasmic lipid membrane
*Memiliki lapisan peptidoglikan yang tebal
*Terdapat asam teichoic dan lipoid yang membentuk lapisan asam lipoteichoic yang berguna untuk chelating agen dan untuk adhesi tipe tertentu.
*Beberapa spesies memiliki kapsul polisakarida
*Beberapa spesies memiliki flagellum
*Jika terdapat akan diperkuat oleh 2 cincin, berbeda dengan bakteri gram negative yang flagellumnya diperkuat oleh 4 cincin.
Bakteri Gram Positif
Berdasarkan klasifikasi phyla bakteri yang asli, bakteri gram positif termasuk dalam filum Firmicutes. Didalamnya terdapat kelompok- kelompok bakteri yang sudah banyak dikenal, yaitu :
·         Staphylococcus
·         Streptococcus
·         Enterococcus
·         Bacillus
·         Corynebacterium
·         Nocardia
·         Clostridium
·         Actinobacteria
·         Listeria
  • Bakteri gram-negatifAdalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warnametil ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram-positif  akan mempertahankan warna ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol, sementara bakteri gram-negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna  penimbal ( counterstain) ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua tipebakteri ini berdasarkan perbedaan struktur  dinding sel mereka.
bakteri 2
Karakteristik bakteri gram negative :
*Memiliki Cytoplasmic membrane
*Lapisan peptidoglikan tipis
*Memiliki membran tambahan diluar lapisan peptidoglikan yang dipisahakan oleh spasium periplasmik.
*Membran luar terdiri atas Lipopolisakarida (LPS) yang tersusun oleh lipid A, inti polisakarida, antigen O
*Terdapat porin di membran luar sebagai pori-pori untuk molekul tertentu.
*Memiliki S-layer (Surface layer) yang melekat langsung pada membran luar.
*Jika memiliki flagella, maka akan disokong oleh 4 buah cincin.
*Tidak memiliki asam teichoic ataupun asam lipoteichoic.
*Lipoprotein merekat pada polisakarida.
~ Bakteri Gram Negatif
Bakteri gram negatif termasuk dalam divisi Gracillicutes. Proteobacteria  adalah grup mayor dalam kelompok bakteri gram negatif.Jenis-jenisnya yaitu :
·         Enterobacteriaceae;
Escherichia Coli  Salmonella
Sigella
·         Pseudomonas·         Moraxella·         Helicobacter·         Stenotrophomonas·         Bdellovibrio·         Bakteri asam asetat
·         Legionella·         Alpha-proteobacteria  Wolbachia·         Cyanobacteria·         Spirochaeta·         green sulfur & green non-sulfur bacteria.
Beberapa perbedaan sifat yang dapat dijumpai antara bakteri gram positif dan bakteri gram negative adalah
sebagai berikut :
Pembeda
Bakteri gram positif
Bakteri gram negatif
Dinding sel :
Lapisan peptidoglikan
Kadar lipid
lebih tebal
1-4 %
lebih tipis
11-22%
Resistensi terhadap alkali (1% KOH)
tidak larut
larut
Kepekaan terhadap Iodium
lebih peka
kurang peka
Toksin yang dibentuk
eksotoksin
endotoksin
Resistensi terhadap tellurit
lebih tahan
lebih peka
Sifat tahan asam
ada yang tahan asam
tidak ada yang tahan asam
kepekaan terhadap penisilin
lebih peka
kurang peka
kepekaan terhadap streptomisin
tidak peka
peka

Penyakit B2 dan Pengobatannya

Melaksanakan upaya pencegahan penyakit adalah lebih baik daripada membiarkan ternak sakit baru mengobatinya. Karena apabila sampai babi yang dipelihara mengalami sakit, peternak akan rugi tenaga, waktu dan biaya. Upaya-upaya pencegahan penykit secara umum adalah sebagai berikut:
  • Babi yang dipelihara hendaknya berasal dari kelompok babi yang sehat, tidak pernah terjangkit suatu penyakit.
  • Kandang selalu dibersihkan setiap pagi, sebaiknya sebelum makan diberikan.
  • Kandang tidak becek.
  • Jumlah ternak babi dalam kandang harus sesuai dengan luas kandang
  • Ransum setiap hari diberikan dalam jumlah dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan ternak babi.
  • Berikan obat cacing dan pencegahan penyakit/vaksin secara teratur
  • Bila ada kelainan segera hubungi petugas peternakan.
Pada pokoknya penyakit yang menyerang babi bisa digolongkan menjadi dua:
  1. 1. PENYAKIT TIDAK MENULAR
Misalnya penyakit akibat kekurangan zat-zat makanan tertentu (deficiency) seperti :
Anemia, (kekurangan darah)
Penyebab: kekurangan zat besi dan tembaga, babi induk air susunya hanya sedikit mengandung zat besi.
Gejalah: Pucat, Diare (mencret), pertumbuhan terganggu dan kehilangan berat badan, babi banyak berbaring dan buang kotoran disekitar tempat berbaring.
Pencegahan dan Pengobatan :
ü  Babi bunting diberi makanan tambahan mineral yang banyak mengandung zat besi dan tembaga.
ü  Anak babi bisa diberi zat besi dan tembaga dengan jalan injeksi: misalanya pigdex dengan dosis tepat.
  1. 2. PENYAKITA MENULAR
Yakni penyakit yang disebabkan oleh gangguan dari suatu organisme (bakteri, virus), dan parasit seperti cacing, kutu dls. Misalnya:
  • Mencret (Scours) adalah penyakit yang menyerang alat pencernaan atau usus. Mencret banyak menyerang anak babi atau babi-babi muda. Secara umum yang mempercepat terjadinya mencret ini adalah sanitasi yang tidak baik, udara lembab, tanpa alas kandang, kurang gizi dan stress.  Mencret normal yang menyerang anak babi yang masih kecil biasanya adalah (1) terlampau banyak air susu, 2-3 hari sebelum beranak sampai minggu setelah beranak makanan iduk dibatasi supaya tidak mengganggu alat pencernaan anak babi yang baru lahir. (2). Sementara babi menyususi induk babi mengalami birahi tenang (tidak kelihatan, sering terjadi 3 minggu setelah beranak) sehingga mengakibatkan perubahan hormonal yang mempengaruhi susunan air susu. (3). Pada saat anak disapih, oleh karena itu, pada saat menyapih harus dilakuakan secara bertahap, jangan mendadak, tetapi dengan memberi makan penguat sedikit demi sedikit sambil masih tetap menyusui; dan (4). Infeksi karena cacaing, bakteri atau disentri.
  • Mencret putih (White scours). Penyebab penyakit ini adalah bakteri E.coli yang masuk lewat tali pusat yang sakit (infeksi). Bila didukung kondisi lingkungan yang kurang baik (seperti yang dijelaskan diatas) anak babi mudah terjangkit sakit mencret putih.
ü  Gejalah: kotoran berupa cairan yang berwarna putih seperti kapur dan sangat lemah, tidak mau menyusu serta kepala menunduk
ü  Pencegahan dan Pengobatan: kandang usahakan kering dan diberi alas dan makanan diberi tambahan aureomycin, TM 10.
ü  Penyakit ini biasanya diikuti disentri, anemia dll.
  • Brucellosis (Penyakit keguguran menular), penyebab penyakit ini adalah bakteri Brusella suis.
ü  Gejalah: bila menyerang induk menyebabkan keguguran pada setiap kebuntingan (walaupun tidak semua keguguran disebabkan Brusellosis terlalu sering keguguran dapat disebabkan oleh Brusella) dan bila menyerang jantan, radang testes, lumpuh sampai mandul.
ü  Pencegahan dan pengobatan: sanitasi (beli bibit yang bebas dari brucellosis), vaksinasi, dan ternak yang diserang sebaiknya dikeluarkan, jangan dipelihara lagi. Penyakit ini suli diobati karena obat belum ditemukan, vaksinasi penting
  • Penyakit ngorok. Penyebab penyakit ini adalah bakteri Pasturella multocida.
ü  Gejala: (1). Yang terserang sesak nafas karena ada lendir dalam pernafasan, ada suara ngorok dan leher terlihat bengkak, (2). Penyakit berlangsung cepat kira-kira   1 minggu, (3). Suhu badan naik, kadang-kadang disertai mencret, dan (4). Yang akut terus mati tibab-tiba tanpa didahului gejalah apapun.
ü  Pencegahan dan pengobatan: (1). Sanitasi dan pengelolaan yang baik (makanan), (2). Memisahkan babi yang sakit dan (3). Tahap awal babi bisa diobati dan diberi obat antibiotik (Penicllin IM, Sulmet injeksi).
  • Penyakt kudis (scabies): Penyebab penyakit ini adalah:
ü  Gejalah: babi mengalami kerusakan kulit dengan luka-luka yang berkerak
ü  Pencegahan dan Pengobatan: (1). Babi yang sakit segera dipisahkan supaya tidak menular kepada lainnya, (2). Kandang harus dibersihkan, disemprot atau didesinfektan dengan lysol dan lain-lain, supaya kutu yang menempel dikandang mati, dan (3). Yang sakit diobati dengan scabisix atau dalam keadaan darurat dapat diolesi dengan oli bekas atau minyak kelapa yang dicampur dengan tepung belerang.
  • Penyakit tetanus: Penyebab penyakit ini adalah bakteri Clostridium tetani yang masuk melalui luka terbuka.
ü  Gejalah: (1). Terjadi kekejangan pada urat daging, mulut, leher, dan anggota badan lainnya, (2). Sulit bergerak, perut keras mengejang sulit bernafas, (3). Kotoran dan air kencing tertahan.
ü  Pencegahandan Pengobatan: alat-alat untuk kastrasi harus steril, (2) luka bekas kastrasi harus diberi antibiotik (preparat sulfa) atau suntikan dengan serum tetanus.
  • Penyakit cacing bulat: Penyebab penyakit ini adalah cacing ascaradis, banyak menyerang babi muda
ü  Gejalah: (1). Babi anak kerdil, perut besar dan punggung mengkerut tampak bungkuk; (2). Mencret, nafsu makan kurang; dan (3). Bila serangan hebat timbul gejalah pneumonia.
ü  Pencegahan dan pengobatan: (1). Sanitasi kandang; (2). Bila anak babai hendak dilepas, jangan ditempat yang biasa untuk melepas babi dewasa; dan (3). Beri piperazine yang dilarutkan dalam air. (dosis lihat petunjuk pemakaian).

BEBERAPA PENYAKIT TERNAK B2

PENYAKIT BABI
Pada prinsipnya penyakit yang menyerang babi bisa digolongkan menjadi dua:
1.    Penyakit tak menular
Misalnya penyakit akibat kekurangan zat-zat makanan tertentu (deficiency) seperti anemia, bulu rontok, rachitis, keracunan, dll
2.    Penyakit menular
Yakni penyakit yang disebabkan oleh gangguan dari suatu organisme (bakteri, virus dan parasit) seperti cacing, kutu, dll.
Selanjutnya dibawah ini akan diutarakan beberapa penyakit, baik tak menular yang biasa menimpa dan merugikan usaha ternak babi.

1. Anemia (penyakit kekurangan darah)
            Penyakit ini banyak dialami oleh babi-babi kecil, sekitar umur 3 minggu.
Penyebab:
·         Biasanya kekurangan zat besi dan tembaga, dimana babi tak ada kesempatan mendapatkan tambahan mineral dari dalam tanah.
·         Babi induk air susunya hanya sedikit mengandung zat besi.
Gejalanya:
·         Pucat
·         Diare (mencret)
·         Pertumbuhan terganggu dan kekurangan berat badan
·         Babi banyak berbaring dan buang kotoran disekitar tempat mereka berbaring.
Pencegahan dan pengobatan:
·         Babi bunting diberi makanan tambahan mineral yang bnayak mengandung zat besi dan tembaga.
·         Anak babi bisa diberi zat besi dan tembaga dengan jalan injeksi: misalnya pigdex, dengan dosis:
a. pencegahan anak babi umur 2-4 hari 1cc per ekor
b. penyembuhan umur 5-28 hari 1-2 cc/ekor yang diberi dengan cara injeksi intramuscular dibagian pantat.
Catatan:
·         Anemia yang akut dapat menimbulkan kematian dengan tiba-tiba.
·         Sedang yang kronis bisa mengakibatkan babi menderita scours (mencret)

2. Agalactia
            Penyakit ini adalah penyakit babi induk yang habis melahirkan dimana mengalami kegagalan didalam mengeluarkan atau memproduksi air susu.
Penyebabnya: tidaklah selalu sama dengan kata lain dan berbagai sebab:
·         Oleh Eshericho coli
·         Karena keracunan didalam usus akibat kontaminasi (tak biasa buang kotoran), yang kemudian terus diikuti dengan hilangnya nabsu makan dan kadang-kadang panas guna mengatasi konstipasi bisa diberi obat peluncur, misalnya: garam inggris
·         Akibat peradangan pada uterus (metritis). Ternak yang bersangkutan sakit kehilangan nabsu makan temperatur tubuh naik: 106oF yang normal 102 – 1030F. Dari vulva keluar cairan yang berwarna kemerahan atau kekuningan. Peradangan uterus ini biasanya diikuti peradangan ambing (mastitis) mengakibatkan kegagalan air susu (Agalactia), maka penyakit ini juga disebut MMA Complek (Mastitis Metritis Agalactia Complek).
Gejala umum:
·         Gejala pertama biasanya nampak 3 hari sesudah melahirkan, walaupun sering dapat terlihat belum melahirkan atau sebelum anak-anak disapih.
·         Temperatur 103 – 106oF.
·         Babi tak mau makan, air susu sedikit atau gagal sama sekali.
·         Dari vagina keluar nanah (pus) berwarna keputihan atau kekuning-kuningan.
·         Anak babi mencret.
·         Kadang-kadang tidak diketahui sampai anak babi kelaparan.
Pencegahan dan pengobatan:
·         Makanan baik, dan kebersihan harus terjamin
·         untuk menghindarkan konstipasi, babi bisa diberi obat peluncur, atau cairan gula (gula tebu) 6-10%, pada ransum, garam inggris.
·         Pengobatan, tetapi tak selalu efektif: dengan injeksi antibiotik (penicilin, penstrep, terramycin, sulmet)
Catatan:
·         Untuk menstimulir air susu bisa diberi suntikan dengan Oxytocin 5-10 I.U dan 25 mg stillbestrol.
·         Peristiwa ini akan menimpa semua anak babi yang melahirkan . oleh karena itu anak babi harus diberi susu extra.

3. Rheumatik
Penyebab:
·         Babi kurang mendapat sinar matahari, adanya udara lembab, dan ventilasi yang kurang sempurna merupakan penyebab faktor yang penting.
·         Makanan serba kurang baik
·         Ternak sering menderita Erysipelas.
Gejala:
·         Napsu makan berkurang dan kehilangan berat badan
·         Konstipasi, dan air kencing agak menjadi keruh.
·         Sering menunjukkan gejala dimana babi selalu berbaring dan berteriak bila ditekan urat-urat sepanjang tulang belakang.
Pencegahan dan pengobatan:
·         Ransum harus baik, lebih-lebih vitamin A dan D haris cukup.
·         Kandang bersih, hangat dan kering
·         Pengobatan dengan penicilin injeksi dan sulfa

4. Scours (mencret)
            Scours adalah suatu gejala penyakit enteritis yang ditandai adanya peradangan usus, scours banyak menyerang anak babi atau babi –babi muda.
Penyebab:
Untuk mengetahui penyebab dan gejalanya secara khusus sangat sulit, karena sebenarnya scour itu ada berbagai tipe yang masing2 penyebabnya tak sama. Akan tetapi perlu diketahui bahwa yang mempercepat scours atau enteritis ini adalah karena sanitasi kurang diperhatikan, kelembaban udara, kedinginan, alas kandang kurang, makanan yang tak memenuhi syarat, kurang zat besi (anemia), stress.
Tipe-tipe scours atau enteritis:
1.    Non Infectious Enteritis, jenis penyakit ini pertama-tama timbul akibat makanan yang tak menjamin, terutama kekurangan vitamin B, yang mengakibatkan scours. Walaupun scours ini tak berinfeksi (Non Infectious Scours) tetapi sangat mengurangi daya tahan tubuh yang akhirnya mudah kena infeksi enteritis dan penyakit lain.
2.    Infectious Enteritis
a.    Nonspectious Enteritis
Penyakit ini disebabkan oleh berbagai jenis bakteri (tak khusus oleh salah satu bakteri), yang sudah berjangkit akibat stress.
b.    Necrotic Enteritis; sering disebut NECRO yang disebabkan oleh bakteri Salmonella.
-          Banyak menyerang babi umur 2-6 bulan
-          Kotoran berbau busuk, dan berwarna agak hitam keabuan
-          Kotoran sering bercampur jaringan2 usus yang telah lepas.
c.    Desentri
Yakni scours yang berinfeksi parah. Kadang2 penyakit ini disebut BLOODY atau BLACK SCOURS, yang disebabkan oleh bakteri vibrio dan bisa dari bakteri lain (salmonella bakteri). Bakteri ini mengakibatkan mencret berdarah yang sangat membahayakan atau menimbulkan kematian.
d.    Transmisible Gastro Enteritis (T.G.E)
Yakni penyakit Enteritis yang disebabkan oleh virus. Babi disegala umur bisa diserang TGE pada babi muda kematian akibat TGE bisa mencapai 100%.
Pencegahan dan pengobatan:
·         Menjaga kebersihan kandang dengan menggunakan desinfektan (lysol, creolin, dsb) untuk menyemprot dan kandang selalu kering.
·         Terhadap anak babi, hendaknya selalu diberi alas lantai dari rumput, brambut, serbuk gergaji, dsb, yang selalu diganti agar mereka tetap hangat dan bersih.
·         Makanan diberi TM 10 dengan dosis 5-10 gram per 100 kg ransum, atau Aureomycin.
·         Pengobatan dengan:
-          Sulmet injeksi; Aureomycin Soluble Powder pada air minum.
-          Aureomycin selama 15 hari ( dosis biasanya ada petunjuk dari perusahaan)
-          Antibiotic lainnya (Penstrep, Penisilin, Terramycin, Sul-Q-Nox, Noxal)
Catatan:
1.    Stress: ialah tekanan jiwa pada diri ternak yang sangat merugikan akibat terkejut diperjalanan (transport), kedinginan, penyapihan, kastrasi, vaksinasi, pergantian udara, atau pergantian makanan yang mendadak.
2.    Dosis Aureomycin:
a. Pencegahan: 1 sendok teh Aureomycin Soluble Powder dalam 8 liter air minum.
b. Penyembuhan: 2 sendok teh Aureomycin Soluble Powder dalam 4 liter air minum.

5. White Scours (Mencret Putih)
Penyebab: Escherichia coli
Bakteri ini bisa masuk lewat tali pusat yang sakit (infeksi). Dan biasanya babi kecil mudah menderita mencret putih akibat mereka kedinginan, lantai lembab, makanan induk jelek, dsb. Atau anak babi terlampau banyak menyusu.

Gejala:
·         Kotoran merupakan cairan yang berwarna putih seperti kapur.
·         Tak mau menyusu terhadap induk dan nampak sangat lemah.
·         Kepala ditindukkan
Pencegahan dan pengobatan:
·         Kandang diusahakan selalu kering dan hangat, lantai diberi alas dan sering ganti, tidak sampai menjadi kotor ataupun basah akibat air kencing
·         Makanan diberi tambahan aureomycin, TM 10.
Catatan: White Scours biasanya diikuti penyakit anemia, TGE, Necro, Desentri dan penyakit lainnya.

6. Cholera
Penyebab: Virus
Gejala:
·         Temperatur tubuh naik 104-1080F.
·         Napsu makan hilang dan lemah, sehingga tak mau makan tetapi minum cukup banyak
·         Terhuyung-huyung
·         Pada tubuh bagian bawah (sekitar perut) berwarna merah keunguan seperti Erysipelas.
·         Kadang2 seperti kedinginan yang menyebabkan babi berjejal-jejal atau saling berimpitan.
Pencegahan dan pengobatan:
Vaksinasi dengan Serum Anti Cholera Babi atau Rovac Hog Cholera. Sesudah babi berumur 6 minggu, diulangi setahun sekali. Babi-babi dara atau induk sebaiknya 3 minggu sebelum dikawinkan, sedangkan pejantan bisa sewaktu-waktu.

7. Brucellosis ( Keguguran Menular)
            Pada babi, penyakit ini bisa kronis atau subkronis. Yang diserang alat reproduksi (uterus, ambing, testis).
Penyebab: Brusella suis
Gejala:
·         Sebenarnya gelajanya sulit ditentukan karena sering tak jelas, dimana semua penderita itu selalu mengalami abortus dan sebaliknya yang bukan Brucellosis pun bisa abortus. Akan tetapi secara umum bisa dilihat tanda-tanda sbb:
·         Keguguran, anak mati didalam kandungan atau sangat lemah.
·         Pada jantan atau induk bisa steril yang sifatnya bisa sementara atau permanen; kadang2 lumpuh pada kaki belakang; jantan ada gejala radang testis.
Pencegahan dan pengobatan:
·         Sanitasi
·         Belilah bibit yang bebas dari penyakit Brucellosis
·         Vaksinasi
·         Obat belum diketemukan

8. Pneumonia (Penyakit Radang Paru-Paru)
            Pneumoni: suatu penyakit yang bisa menyerang segala binatang, termasuk ternak babi. Bila tanpa pengobatan, 50-70%nmakan mati.
Penyebab: Mikroorganisme, virus, cacing paru-paru (lungworms).
Gejala:
Yang mempercepat berjangkitnya penyakit ini ialah akibat ternak stress (kedinginan, dll). Sehingga mudah terinfeksi yang menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut:
·         Batuk-batuk, pernapasan berbunyi dan terengah-engah, pernapasan cepat dan dangkal.
·         Pada penderita kaki nampak terbuka lebar.
·         Konstipasi
·         Napsu makan hilang
·         Temperatur tubuh tinggi, moncong dan hidung panas serta kering
·         Kulit dan bulu kasar, kering.
Pencegahan dan pengobatan:
·         Pemeliharaan yang baik terutama kebersihan didalam kandang dan sekelilingnya.
·         Yang sakit ditempat yang bersih, dan tak berangin/
·         Makanan yang mudah dicerna dan diberi Aureomycin atau TM 10, guna mencegah infeksi pada saat stress
·         Pengobatan dengan terramycin atau sulmet injeksi; agribon (mengandung sulfadimethoxine, vitamin A dan K)
Catatan:
Dosis Agribon: 1 gr agribon per 10 kg berat badan, setelah 24 jam 0,5 per 50 kg berat badan setiap hari selama 3 hari berturut-turut atau sampai sembuh.

9. Erysipelas
Penyebab: Erysipelothrix insidiosa, bakteri ini sering terdapat pada usus kelenjar leher, radang empedu.
Gejala: penyakit ini ada 3 bentuk.
1.    Akut
·         Menyerupai babi yang menderita cholera
·         Temperatur tubuh tinggi (40oC)
·         Penderita menyendiri selalu berbaring tetapi ada yang masih gesit dan  bila didekati merasa terganggu, lalu pindah tempat sambil teriak kesakitan
·         Bila berjalan, kaki menunjukkan kekakuan, terhuyung-huyung atau jatuh atau kadang2 lumpuh.
·         Nafsu makan turun atau tak makan sama sekali.
·         Kotoran keras, dan bagi babi muda encer
·         Kulit (diamond skin) nampak pada hari ke 2-3 sesudah inkubasi, yakni kulit luka kecil, berwarna merah muda, kemudian menjadi ungu tua, bila diraba keras. Biasanya pada bahu, samping tubuh dan perut.
·         Sering mendengkur, karena hidung bengkak.
·         Diikuti dengan kematian yang tiba-tiba.
2.    Subakut
·         Tanda-tandanya seperti pada yang akut, tetapi tidak begitu ganas bila dibandingkan dengan yang akut. Temperatur tak begitu tinggi, dan sering2 napsu makan masih normal.
·         Beberapa luka nampak seperti segi empat, apabila mengering, pada telinga, ekor, bisa mengelupas.
·         Bila tak berkomplikasi, biasanya sembuh.
3.    Kronis
·         Yang kronis biasanya mendapat serangan lokal seperti pada jantung atau persendian lutut, tumit kaki belakang dan kuku, sehingga mengakibatkan kelumpuhan.
Pencegahan dan pengobatan:
·         Karena organisme itu dapat menyebar didalam tanah ataupun pada ternak, maka agak sulit dilakukan pencegahan.
·         Bila ada yang menderita serangan penyakit tersebut, harus segera di isolasi.
·         Obat dengan serum Erysipelas (Susserin), injeksi subcutaneous atau intrapenous. Dosis tergantung berat badan, 10-40 cc atau lebih
·         Bisa diberi sulfa, penicilin, streptomycin.

10. penyakit Mulut dan Kuku (Apthae Epizootticae = AE)
            Penyakit ini mudah menyerang pada babi, lembu dan kambing.
Penyebab: Virus, oleh karena itu cepat menular.
Gejala: Nampak perubahan pada mulut dan kuku
·         Pada mulut:
a.    Selaput lendir dalam mulut, bibir, langit-langit, lidah dan pada gusi timbul lepuh merah yang berisi cairan kuning sesudah 2-3 hari.
b.    Sering mulut keluar ludah seperti benang bercampur lendir atau berbuih.
·         Timbul luka-luka diantara kuku dan kulit-kulit kaki, akibatnya pincang dan berbaring saja.
·         Kadang2 pada ambing timbul luka dan lepuh juga
·         Temperatur tubuh naik dan napsu makan hilang.
Pencegahan dan pengobatan:
·         Semua kandang beserta peralatannya harus selalu bersih, didesinfektir (cairan caustic soda 2%)
·         Ternak yang mati akibat AE harus ditanam
·         Vaksinasi setahun sekali
·         Obat antibiotic (penicilin powder); obat khusus belum diketahui.

11. Penyakit Cacing Bulat (Ascarids = Roundworm)
            Cacing ini bentuknya bulat seperti cacing pada manusia. Bentuknya bulat seperti pensil.
Cacing banyak menyerang pada babi-babi muda dan banyak menimbulkan kematian.
Gejala:
·         Timbul gejala pneumonia, bila mendapat serangan larva hebat.
·         Pertumbuhan sangat lambat
·         Anak babi menjadi kurus dan perut buncit
·         Mencret dan napsu makan berkurang
·         Selaput mata pucat.
Pencegahan dan pengobatan:
·         Kandang harus bersih, dengan disemprot desinfektan (lysol,kreolin, yodofoor)
·         Kalau anak babi hendak dilepas, jangan dilepas ditempat yang biasa untuk mengumbar babi-babi dewasa.
·         Pengobatan dengan piperazine yang dilarutkan air. Dosis tergantung berat badan: biasanya ada keterangan dari perusahaan.

Catatan: siklus hidup cacing Ascarids
1.    larva bersama makanan dan air minum masuk pada tubuh babi.
2.    Telur berada dalam usus halus. Dari usus terus menembus dinding usus, ikut aliran darah menuju hati.
3.    Dari hati, larva masuk atau menuju kejantung bersama aliran darah.
4.    Dari jantung terus ke paru-paru dan menjadi lebih dewasa.
5.    Sesudah beberapa hari berada di paru-paru, larva masuk lubang pernapasan. Dari sini dikembalikan (ditelan) terus menuju keperut dan usus halus. Pada usus halus mereka tinggal menetap menjadi dewasa dan bertelur.
6.    Telur keluar bersama kotoranrumahidaman2012@yahoo.com
7.    Telur diluar tubuh, tahan terhadap lingkungan luar. Ditempat yang basah dan hangat, telur-telur tadi menetas menjadi larva-larva kecil dan menunggu kesempatan baik masuk kedalam tubuh.

12. Scabies (kudis)
Penyebab: Semacam kutu kecil, yang tak terlihat oleh mata. Ada 2 macam kutu, yakni:
·         Menyebabkan kulit yang digigit itu berlubang, merusakkan kulit dan kuku itu mengeluarkan racun.
·         Menggigit, terus menghisap darah tanpa membuat lubang pada kulit.
Sering keduanya berkombinasi, sehingga mengakibatkan penderita menjadi lebih parah.
Penyakit ini mudah berjangkit atau menular pada babi muda ataupun babiyang kekurangan zat-zat makanan yang diperlukan.
Tanda-tanda:
·         Penderita makannya tidak sebagaimana semestinya, agak berkurang, sehingga pertumbuhan kurang normal.
·         Nampak suatu goresan yang gatal, karena kutu menembus kulit.
·         Permukaan kulit yang sakit timbul keruping yang tebal; keras, kencang dan kulit berkerut (melipat).
Pencegahan dan pengobatan:
·         Ternak yang sakit harus diisolasi, supaya tak menular kepada yang lain.
·         Kandang harus dibersihkan, disemprot atau didesinfektan dengan lysol, kreolin, dll. Sebab walaupun babi yang sakit diobati, apabila kandang masih kotor atau pada dinding masih banyak kutu-kutunya, maka pengobatan tersebut kurang menguntungkan.
·         Pengobatan dengan Scabisix, dilumaskan pada kulit dan diulangi sampai sembuh. Dosis 10cc Scabisix dicampur 1 liter air (30 hari sebelum dipotong tak boleh dipakai).

Sumber           : Seri Budidaya “Usaha Ternak Babi” (buku pegangan)
Oleh                : AAK
Penerbit           : Kanisius, 2010