Kamis, 08 September 2016

manajemen penanggulangan penyakit pada ternak b2

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Peternakan Babi adalah salah satu sumber dari komoditi ekspor yang mempunyai pangsa pasar bagus. Kebutuhan daging babi di luar negeri sangat tinggi sekali. Cara pemeliharaan ternak babi juga tidaklah terlalu sulit, namun begitu beberapa penyakit pada babi perlu mendapatkan perhatian serius. Bila ingin berhasil dalam beternak babi tentunya harus menguasai manajemennya, baik itu perkandangan, penyakit maupun pemasaran. Pengendalian penyakit adalah salah satu bagian dari manajemen pemeliharaan ternak babi yang tidak bisa disepelehkan.
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha pengembangan ternak babi dari aspek manajemen adalah faktor kesehatan atau pengendalian penyakit. Ternak babi sangat peka dan rentan terhadap penyakit. Penyakit menyebabkan kerugian ekonomi dalam pengertian mortalitas dan morbiditas laju pertumbuhan, konversi makanan yang buruk, biaya pengobatan meningkat serta gangguan kontinuitas produksi. Memiliki pengetahuan tentang penyakit yang lazim atau penyakit yang sering muncul akan sangat membantu dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit.
Para ahli penyakit ternak khususnya ternak babi menyadari bahwa problematika penyakit sangat bervariasi baik penyebab maupun permasalahannya. Penelitian yang mendalam tentang permasalahan penyakit pada ternak babi saat ini menghasilkan suatu konsep penanggulangan yang di sebut multifactorial (penanggulangan dengan berbagai cara berdasarkan banyak faktor).
Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui berbagai jenis penyakit yang sering menyerang ternak babi serta bagaimana cara menanggulanginya (pencegahan dan pengobatan).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Penyakit Babi
Penyakit pada ternak babi umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit. Selain dari organism pembawa penyakit, manajemen pemeliharaan yang kurang baik turut berpengaruh pada kesehatan ternak babi. Memiliki pengetahuan tentang penyakit yang lazim atau penyakit yang sering muncul pada ternak babi akan sangat membantu dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit (Sihombing, 2006).
Penyakit ternak babi ada bermacam-macam jenisnya baik itu penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Penyakit- penyakit tersebut bisa disebabkan oleh berbagai hal, dari dalam babi itu sendiri ataupun faktor dari luar seperti serangan virus dan bakteri. Untuk dapat berhasil dalam ternak babi, perlu untuk mengendalikan berbagai penyakit yang sering muncul dalam peternakan (Subronto dan Tjahajati, 2001).
Menurut Dharma dan Putra (1997), terjadinya suatu penyakit dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat kompleks. Secara umum terdapat tiga faktor yang saling berkaitan, yaitu agen penyakit, hospes dan lingkungan, yang sering disebut sebagai segitiga epidemiologi.
Pencegahan Dan Penanggulangan
Melaksanakan upaya pencegahan penyakit adalah lebih baik daripada membiarkan ternak sakit baru mengobatinya, karena apabila sampai babi yang dipelihara mengalami sakit, peternak akan rugi tenaga, waktu dan biaya (Atiyah, 2001).
Pengendalian penyakit pada ternak babi didasarkan pada pengujian dan pemisahan serta pengafkiran ternak yang terinfeksi (Sihombing, 2006).
Menurut Tarmudji dkk (1988), upaya-upaya pencegahan penyakit secara umum adalah sebagai berikut:

  1. Babi yang dipelihara hendaknya berasal dari kelompok babi yang sehat, tidak pernah terjangkit suatu penyakit;
  2. Kandang selalu dibersihkan setiap pagi, sebaiknya sebelum makan diberikan;
  3. Kandang tidak becek;
  4. Jumlah ternak babi dalam kandang harus sesuai dengan luas kandang;
  5. Ransum setiap hari diberikan dalam jumlah dan mutu yang sesuai dengan kebutuhan ternak babi;
  6. Berikan obat cacing dan pencegahan penyakit/vaksin secara teratur;
  7. Bila ada kelainan segera hubungi petugas peternakan.
BAB III
PEMBAHASAN
Pada prinsipnya penyakit yang menyerang babi bisa digolongkan menjadi dua:
Penyakit Tak Menular
Misalnya penyakit akibat kekurangan zat-zat makanan tertentu (deficiency) seperti anemia, bulu rontok, rachitis, keracunan, dan lain – lain.
Penyakit Menular
Yakni penyakit yang disebabkan oleh gangguan dari suatu organisme (bakteri, virus dan parasit) seperti cacing, kutu, lalat dan lain - lain.
Dibawah ini akan diutarakan beberapa penyakit, baik penyakit menular maupun tak menular yang biasa menimpa dan merugikan usaha ternak babi.
Anemia (Penyakit Kekurangan Darah)
Penyakit ini banyak dialami oleh babi-babi kecil, sekitar umur 3 minggu.
Penyebab:
  1. Biasanya kekurangan zat besi dan tembaga, dimana babi tak ada kesempatan mendapatkan tambahan mineral dari dalam tanah;
  2. Babi induk air susunya hanya sedikit mengandung zat besi.
Gejalan:
  1. Pucat
  2. Diare (mencret)
  3. Pertumbuhan terganggu dan kekurangan berat badan
  4. Babi banyak berbaring dan buang kotoran disekitar tempat mereka berbaring.
Pencegahan dan Pengobatan:
  1. Babi bunting diberi makanan tambahan mineral yang bnayak mengandung zat besi dan tembaga;
  2. Anak babi bisa diberi zat besi dan tembaga dengan jalan injeksi: misalnya pigdex, dengan dosis: untuk anak babi umur 2 - 4 hari 1cc / ekor (tindakan pencegahan), umur 5 - 28 hari 1-2 cc / ekor dengan cara injeksi intramuscular dibagian pantat (untuk tindakan penyembuhan).
Catatan:
  1. Anemia yang akut dapat menimbulkan kematian dengan tiba-tiba;
  2. Sedangkan yang kronis bisa mengakibatkan babi menderita scours (mencret).
Agalactia
Penyakit ini adalah penyakit babi induk yang habis melahirkan dimana mengalami kegagalan didalam mengeluarkan atau memproduksi air susu.
Penyebab:
  1. Oleh Eshericho coli
  2. Karena keracunan didalam usus akibat kontaminasi (tak biasa buang kotoran), yang kemudian terus diikuti dengan hilangnya nabsu makan dan kadang-kadang panas guna mengatasi konstipasi bisa diberi obat peluncur, misalnya: garam inggris
  3. Akibat peradangan pada uterus (metritis). Ternak yang bersangkutan sakit kehilangan nabsu makan temperatur tubuh naik: 106° F yang normal 102° F – 103°F. Dari vulva keluar cairan yang berwarna kemerahan atau kekuningan. Peradangan uterus ini biasanya diikuti peradangan ambing (mastitis) mengakibatkan kegagalan air susu (Agalactia), maka penyakit ini juga disebut MMA Complek (Mastitis Metritis Agalactia Complek).
Gejala Umum:
  1. Gejala pertama biasanya nampak 3 hari sesudah melahirkan, walaupun sering dapat terlihat belum melahirkan atau sebelum anak-anak disapih ;
  2. Temperatur 103°F – 106°F ;
  3. Babi tak mau makan, air susu sedikit atau gagal sama sekali ;
  4. Dari vagina keluar nanah (pus) berwarna keputihan atau kekuning-kuningan ;
  5. Anak babi mencret;
  6. Kadang-kadang tidak diketahui sampai anak babi kelaparan
Pencegahan dan Pengobatan:
  1. Makanan baik, dan kebersihan harus terjamin
  2. Untuk menghindarkan konstipasi, babi bisa diberi obat peluncur, atau cairan gula (gula tebu) 6-10%, pada ransum, garam inggris.
  3. Pengobatan dengan injeksi antibiotik (penicilin, penstrep, terramycin, sulmet)
Catatan:
  1. Untuk menstimulir air susu bisa diberi suntikan dengan Oxytocin 5-10 I.U dan 25 mg stillbestrol;
  2. Peristiwa ini akan menimpa semua anak babi yang melahirkan . oleh karena itu anak babi harus diberi susu extra.
Rheumatik
Penyebab:
  1. Babi kurang mendapat sinar matahari, adanya udara lembab, dan ventilasi yang kurang sempurna merupakan penyebab faktor yang penting.
  2. Makanan serba kurang baik
  3. Ternak sering menderita Erysipelas
Gejala:
  1. Napsu makan berkurang dan kehilangan berat badan
  2. Konstipasi, dan air kencing agak menjadi keruh.
  3. Sering menunjukkan gejala dimana babi selalu berbaring dan berteriak bila ditekan urat-urat sepanjang tulang belakang.
Pencegahan dan Pengobatan:
  1. Ransum harus baik, lebih-lebih vitamin A dan D haris cukup.
  2. Kandang bersih, hangat dan kering
  3. Pengobatan dengan penicilin injeksi dan sulfa
Scours (Mencret)
Scours adalah suatu gejala penyakit enteritis yang ditandai adanya peradangan usus, scours banyak menyerang anak babi atau babi – babi muda.
Penyebab:
Untuk mengetahui penyebab dan gejalanya secara khusus sangat sulit, karena sebenarnya scour itu ada berbagai tipe yang masing - masing penyebabnya tak sama. Akan tetapi perlu diketahui bahwa yang mempercepat scours atau enteritis ini adalah karena sanitasi kurang diperhatikan, kelembaban udara, kedinginan, alas kandang kurang, makanan yang tak memenuhi syarat, kurang zat besi (anemia), stress.
Tipe-Tipe Scours atau Enteritis:
  1. Non Infectious Enteritis, jenis penyakit ini pertama-tama timbul akibat makanan yang tak menjamin, terutama kekurangan vitamin B, yang mengakibatkan scours. Walaupun scours ini tak berinfeksi (Non InfectiousScours) tetapi sangat mengurangi daya tahan tubuh yang akhirnya mudah kena infeksi enteritis dan penyakit lain.
  2. Infectious Enteritis
-          Nonspectious Enteritis disebabkan oleh berbagai jenis bakteri (tak khusus oleh salah satu bakteri), yang sudah berjangkit akibat stress.
-          Necrotic Enteritissering disebut necro yang disebabkan oleh bakteri Salmonella.
a)      Banyak menyerang babi umur 2-6 bulan
b)      Kotoran berbau busuk, dan berwarna agak hitam keabuan
c)      Kotoran sering bercampur jaringan2 usus yang telah lepas.
  1. Desentri yakni scours yang berinfeksi parah. Kadang - kadang penyakit ini disebut bloody atau black scours, yang disebabkan oleh bakteri vibrio dan bisa dari bakteri lain (salmonella bakteri). Bakteri ini mengakibatkan mencret berdarah yang sangat membahayakan atau menimbulkan kematian.
  2. Transmisible Gastro Enteritis (T.G.E) yakni penyakitEnteritis yang disebabkan oleh virus. Babi disegala umur bisa diserang TGE pada babi muda kematian akibat TGEbisa mencapai 100%.
Pencegahan dan pengobatan:
a)      Menjaga kebersihan kandang dengan menggunakan desinfektan (lysol, creolin) untuk menyemprot dan kandang selalu kering.
b)      Terhadap anak babi, hendaknya selalu diberi alas lantai dari rumput, brambut, serbuk gergaji, dsb, yang selalu diganti agar mereka tetap hangat dan bersih.
c)      Makanan diberi TM 10 dengan dosis 5-10 gram per 100 kg ransum, atau Aureomycin
d)     Pengobatan dengan:
-          Sulmet injeksi; Aureomycin Soluble Powder pada air minum.
-          Aureomycin selama 15 hari ( dosis biasanya ada petunjuk dari perusahaan)
-          Antibiotic lainnya (Penstrep, Penisilin, Terramycin, Sul-Q-Nox, Noxal)
Catatan:
a)      Stress: ialah tekanan jiwa pada diri ternak yang sangat merugikan akibat terkejut diperjalanan (transport), kedinginan, penyapihan, kastrasi, vaksinasi, pergantian udara, atau pergantian makanan yang mendadak.
b)      Dosis Aureomycin:
-          Pencegahan: 1 sendok teh Aureomycin Soluble Powder dalam 8 liter air minum.
-          Penyembuhan: 2 sendok teh Aureomycin Soluble Powder dalam 4 liter air minum.
White Scours (Mencret Putih)
Penyebab:
-          Bakteri Escherichia Coli. Bakteri ini bisa masuk lewat tali pusat yang sakit (infeksi). Dan biasanya babi kecil mudah menderita mencret putih akibat mereka kedinginan, lantai lembab, makanan induk jelek, dsb. Atau anak babi terlampau banyak menyusu.
Gejala:
  1. Kotoran merupakan cairan yang berwarna putih seperti kapur.
  2. Tak mau menyusu terhadap induk dan nampak sangat lemah.
  3. Kepala ditundukkan
Pencegahan dan Pengobatan:
  1. Kandang diusahakan selalu kering dan hangat, lantai diberi alas dan sering ganti, tidak sampai menjadi kotor ataupun basah akibat air kencing
  2. Makanan diberi tambahan aureomycin, TM 10.
Catatan:
-          White Scours biasanya diikuti penyakit Anemia, TGE, Necro, Desentri dan penyakit lainnya.

Cholera
Penyebab: Virus
Gejala:
  1. Temperatur tubuh naik 104-1080F.
  2. Napsu makan hilang dan lemah, sehingga tak mau makan tetapi minum cukup banyak
  3. Terhuyung-huyung
  4. Pada tubuh bagian bawah (sekitar perut) berwarna merah keunguan seperti Erysipelas.
  5. Kadang- kadang seperti kedinginan yang menyebabkan babi berjejal-jejal atau saling berimpitan.
Pencegahan dan pengobatan:
Vaksinasi dengan Serum Anti Cholera Babi atau Rovac Hog Cholera. Sesudah babi berumur 6 minggu, diulangi setahun sekali. Babi-babi dara atau induk sebaiknya 3 minggu sebelum dikawinkan, sedangkan pejantan bisa sewaktu-waktu.

Brucellosis ( Keguguran Menular)
Pada babi, penyakit ini bisa kronis atau subkronis. Yang diserang alat reproduksi (uterus, ambing, testis).
Penyebab: Bakteri Brusella Suis
Gejala:
  1. Keguguran, anak mati didalam kandungan atau sangat lemah.
  2. Pada jantan atau induk bisa steril yang sifatnya bisa sementara atau permanen; kadang2 lumpuh pada kaki belakang; jantan ada gejala radang testis.
Pencegahan dan Pengobatan:
  1. Sanitasi
  2. Belilah bibit yang bebas dari penyakit Brucellosis
  3. Vaksinasi
  4. Obat belum diketemukan
Pneumonia (Penyakit Radang Paru-Paru)
Suatu penyakit yang bisa menyerang segala binatang, termasuk ternak babi. Bila tanpa pengobatan, 50-70% ternak babi akan mati.
Penyebab: Mikroorganisme, Virus, cacing paru-paru (lungworms
Gejala:
  1. Batuk-batuk, pernapasan berbunyi dan terengah-engah, pernapasan cepat dan dangkal.
  2. Kaki nampak terbuka lebar.
  3. Konstipasi
  4. Nafsu makan hilang
  5. Temperatur tubuh tinggi, moncong dan hidung panas serta kering
  6. Kulit dan bulu kasar, kering.
Pencegahan dan pengobatan:
  1. Pemeliharaan yang baik terutama kebersihan didalam kandang dan sekelilingnya.
  2. Ternak babi yang sakit ditempatkan di tempat yang bersih, dan tak berangin
  3. Makanan yang mudah dicerna dan diberi Aureomycin atau TM 10, guna mencegah infeksi pada saat stress
  4. Pengobatan dengan terramycin atau sulmet injeksi; agribon (mengandung sulfadimethoxine, vitamin A dan K)
Catatan:
Dosis Agribon: 1 gr agribon per 10 kg berat badan, setelah 24 jam 0,5 per 50 kg berat badan setiap hari selama 3 hari berturut-turut atau sampai sembuh.
Erysipelas
Penyebab: Erysipelothrix insidiosa, bakteri ini sering terdapat pada usus kelenjar leher, radang empedu.
Gejala:
Gejala penyakit ini ada 3 fase.
  1. Akut
a)      Menyerupai babi yang menderita cholera
b)      Temperatur tubuh tinggi (40oC)
c)      Ternak babi menyendiri dan selalu berbaring tetapi ada yang masih gesit dan bila didekati merasa terganggu, lalu pindah tempat sambil teriak kesakitan
d)     Bila berjalan, kaki menunjukkan kekakuan, terhuyung-huyung atau jatuh atau kadang – kadang lumpuh.
e)      Nafsu makan turun atau tak makan sama sekali
f)       Kotoran keras, dan bagi babi muda encer
g)      Kulit (diamond skin) nampak pada hari ke 2-3 sesudah inkubasi, yakni kulit luka kecil, berwarna merah muda, kemudian menjadi ungu tua, bila diraba keras. Biasanya pada bahu, samping tubuh dan perut
h)      Sering mendengkur, karena hidung bengkak
i)        Diikuti dengan kematian yang tiba-tiba.
  1. Sub Akut
a)      Tanda-tandanya seperti pada yang akut, tetapi tidak begitu ganas bila dibandingkan dengan yang akut.
b)      Temperatur tubuh tak begitu tinggi, dan nafsu makan masih normal.
c)      Beberapa luka nampak seperti segi empat, apabila mengering, pada telinga, ekor, bisa mengelupas.
d)     Bila tak berkomplikasi, biasanya sembuh.
  1. Kronis
Yang kronis biasanya mendapat serangan lokal seperti pada jantung atau persendian lutut, tumit kaki belakang dan kuku, sehingga mengakibatkan kelumpuhan.
Pencegahan dan Pengobatan:
a)      Karena organisme itu dapat menyebar didalam tanah ataupun pada ternak, maka agak sulit dilakukan pencegahan.
b)      Bila ada ternak babi yang menderita serangan penyakit tersebut, harus segera di isolasi.
c)      Obati dengan Serum Erysipelas (Susserin), injeksi subcutaneous atau intrapenous. Dosis tergantung berat badan, 10-40 cc atau lebih.
d)     Bisa diberi sulfa, penicilin, streptomycin.
Penyakit Mulut dan Kuku (Apthae Epizootticae)
Penyebab: Virus (cepat menular)
Gejala:
  1. Nampak perubahan pada mulut dan kuku
  2. Selaput lendir dalam mulut, bibir, langit-langit, lidah dan pada gusi timbul lepuh merah yang berisi cairan kuning sesudah 2-3 hari.
  3. Sering keluar ludah seperti benang bercampur lendir atau berbuih.
  4. Timbul luka-luka diantara kuku dan kulit-kulit kaki, akibatnya pincang dan berbaring saja.
  5. Kadang - kadang pada ambing timbul luka dan lepuh juga
  6. Temperatur tubuh naik dan napsu makan hilang.
Pencegahan dan pengobatan:
  1. Semua kandang beserta peralatannya harus selalu bersih, didesinfektir (cairan caustic soda 2%)
  2. Ternak yang mati akibat AE harus ditanam
  3. Vaksinasi setahun sekali
  4. Obat antibiotic (penicilin powder); obat khusus belum diketahui.
Penyakit Cacing Bulat (Ascarids)
Banyak menyerang babi-babi muda hingga mengakibatkan kematian.
Gejala:
  1. Timbul gejala pneumonia, bila mendapat serangan larva hebat.
  2. Pertumbuhan sangat lambat
  3. Anak babi menjadi kurus dan perut buncit
  4. Mencret dan napsu makan berkurang
  5. Selaput mata pucat.
Pencegahan dan Pengobatan
  1. Kandang harus bersih, dengan disemprot desinfektan (lysol, kreolin, yodofoor)
  2. Kalau anak babi hendak dilepas, jangan dilepas ditempat yang biasa untuk mengumbar babi-babi dewasa.
  3. Pengobatan dengan piperazine yang dilarutkan air. Dosis tergantung berat badan: biasanya ada keterangan dari perusahaan.
Scabies (Kudis)
Penyakit ini mudah berjangkit atau menular pada babi muda ataupun babi yang kekurangan zat-zat makanan yang diperlukan.
Penyebab:
Semacam kutu kecil, yang tak terlihat oleh mata.
Gejala:
  1. Nafsu makan ternak babi menurun, sehingga pertumbuhan kurang normal.
  2. Timbul suatu goresan yang gatal, karena kutu menembus kulit.
  3. Permukaan kulit yang sakit timbul keruping yang tebal; keras, kencang dan kulit berkerut (melipat).
Pencegahan dan Pengobatan:
  1. Ternak yang sakit harus diisolasi, supaya tak menular kepada yang lain.
  2. Kandang harus dibersihkan, disemprot atau didesinfektan dengan lysol, kreolin, dan lain - lain. Sebab walaupun babi yang sakit diobati, apabila kandang masih kotor atau pada dinding masih banyak kutu-kutunya, maka pengobatan tersebut kurang menguntungkan.
  3. Pengobatan dengan Scabisix, dilumaskan pada kulit dan diulangi sampai sembuh. Dosis 10cc Scabisix dicampur 1 liter air (30 hari sebelum dipotong tak boleh dipakai).
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Salah satu penyebab kegagalan dalam berternak babi yang sangat dirasakan peternak adalah masalah kesehatan atau penyakit. Penyakit menyebabkan kerugian ekonomis dalam pengertian mortalitas dan morbiditas laju pertumbuhan dan konversi makanan yang buruk, biaya pengobatan meningkat dan gangguan kontinuitas produksi. Memiliki pengetahuan tentang penyakit yang lazim atau penyakit yang sering muncul akan sangat membantu dalam mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian penyakit.





– PENYAKIT HEWAN TERNAK B2

– PENYAKIT HEWAN TERNAK BABI

Kesehatan dan Pencegahan Penyakit
Berbagai penyakit yang biasa diderita ternak babi antara lain :
  1. 1. Penyakit kekurangan vitamin A
Babi-babi yang dipiara secara bebas di luar kandang (outdoor) pada umumnya tidak pernah menderita defisiensi vitamin A. Sebab mereka dengan mudah bisa memperoleh hijauan seperti rumput-rumputan, yang mengandung carotene cukup banyak. Carotene ini di dalam alat pencernaan dokonversikan menjadi vitamin A, yang kemudian disimpan di dalam hati, sehingga sewaktu-waktu diperlukan vitamin tersebut sudah siap.
Tetapi bagi babi-babi yang selama hidupnya dipiara di dalam kandang terus-menerus, jika terjadi kekurangan vitamin, mereka tidak bisa memperoleh tambahan dari luar. Apalagi babi-babi yang baru lahir, cadangan vitamin A-nya sangat rendah, dan hal ini sangat tergantung pada Colostrum yang bisa diterima dari induk.
Gejala-gejala defisiensi vitamin
  1. Pada anak babi
– Anak babi yang lahir masih di dalam kandungan mati, atau mati sesudah lahir.
– Pertumbuhan sangant lambat, atau terjadi pot-belly (perut besar).
– Anak-anak babi yang hidup, nafsu menyusunya sangat kurang, dan jalannya tidak normal.
– Anak babi yang lahir, bola matanya rudimeter atau buta.
– Sering anak babi lahir sebelum waktunya (abortus).
  1. Pada anak babi grower
– Terjadi hambatan pertumbuhan, dan di dalam waktu singkat ukuran kepala menjadi tidak normal (besar).
– Nafsu makan mundur, anak babi menjadi keras (kaku) dan Nampak seperti bersisik.
  1. Pada babi besar
Pada babi-babi yang besar gejalanya tidak begitu Nampak, namun demikian sering mengakibatkan gangguan seperti :
– Birahi tertunda atau sama sekali tidak terjadi birahi.
– Mudah terjadi peradangan pada perut (alat pencernaan).
Pencegahan
– Babi diberikan makanan hijauan.
– Diberikan vitamin A, dengan jalan injeksi intramuscular.
Catatan
Jika ternak babi terkena infeksi yang serius akibat dari parasit (cacing) atau pneumonia, maka cadangan vitamin A yang ada lekas habis terpakai atau boros.
  1. 2. Anemia
Anemi banyak diderita babi-babi kecil, sekitar umur 3 minggu.
Penyebab
– Kekurangan mineral, terutama zat besi dan tembaga.
– Anak babi menggigil kedinginan terus-menerus dan pada kondisi yang lembab.
– Air susu babi kandungan zat besinya sangat rendah.
Gejala
– Pucat, terutama pada daun telinga dan perut.
– Kandang-kandang leher menjadi lebih besar.
– Pernapasan cepat.
– Pertumbuhan terganggu, kehilangan berat badan dan tidak lincah.
– Babi banyak berbaring dan buang kotoran di sekitar tempat mereka berbaring.
– Diarhee, kotoran abu-abu atau berwarna kuning keputih-putihan.
Pencegahan
Beberapa pencegahan yang bisa dilakukan :
  1. Pada setiap hari, babi-babi yang dipiara di dalam kandang, perlu diberikan tanah atau batu bata yang bersih ke dalam kandang. Ini adalah cara yang paling mudah dilakukan dan murah juga.
  2. Makanan untuk babi induk diberikan tambahan mineral yang mengandung zat besi dan tembaga.
  3. Berikanlah pada anak babi yang berumur 24 jam, tablet mineral yang berisikan zat besi dan cobalt. Pemberian tablet ini diulangi pada hari ke-7 atau ke-20.
  4. Pada anak babi bisa diberikan larutan zat besi dan tembaga (iron-coper) yang terdiri dari 500 gram ferrosulphate, 75 gram coppersulphate dan 3 liter air.
  5. Putting induk dilumasi dengan ferrosulphate 1,8% sebanyak 4 cc. Ferrosulphate tersebut dilarutkan pada cairan yang ditambahkan gula sebanyak 500 gram dan diberikan pada setiap hari.
  6. Di antara berbagai cara tersebut di atas, masih ada cara yang lebih praktis dan mudah dilakukan, yaitu dengan memberikan zat besi dalam bentuk “iron dextran” yang diinjeksikan sebanyak 100 mg pada hari ketiga sehabis babi itu lahir. Jika perlu pada tiga minggu kemudian, injeksi zat besi ini diulangi dengan dosis yang lebih kecil.
Catatan
– Anemi yang akut dapat menimbulkan kematian dengan tiba-tiba.
– Sedangkan yang kronis bisa mengakibatkan babi menderita scours (mencret).
– Anak babi memerlukan suplai zat besi secara teratur guna membentuk haemoglobine. Pigmen yang Nampak sel darah merahnya merupakan bagian yang terpenting dalam mengangkut O2 (oxygen) ke seluruh jaringan tubuh. Keperluan zat besi tersebut bagi setiap ekor anak babi per hari adalah 7 mg, di mana air susu induk hanya bisa mensuplai 2 mg. Persediaan zat besi pada air susu induk yang jumlahnya kecil, berkisar 30 – 50 mg ini akan habis dalam waktu dua minggu. Dengan peristiwa ini maka anak babi akan menderita anemi, apabila mereka tidak diberikan tambahan zat besi. Dalam hal ini copper (zat tembaga) dan vitamin B12 juga penting.
Karena pada setiap harinya, air susu induk hanya mengandung seperlima belas zat besi yang diperlukan anak babi, maka tidaklah mengherankan apabila anak babi yang kurang baik pemeliharaannya akan selalu menderita anemi. Itulah sebabnya setiap anak babi selalu diberikan tambahan “iron dextran” seperti telah diutarakan di atas.
  1. 3. Scours (mencret)
Scours adalah suatu gejala penyakit enteritis akibat adanya peradangan pada alat pencernaan atau usus. Scours banyak menyerang anak babi dan babi-babi muda.
Penyebab
Untuk mengetahui penyebab dan gejala penyakit ini, secara khusus dirasa sangat sulit. Sebab penyakit ini ada berbagai tipe. Namun demikian secara umum bisa dikemukakan di sini, bahwa yang mempercepat terjadinya scours ini antara lain :
– Sanitasi kurang sempurna.
– Babi selalu kedinginan, keadaan udara lembab, tanpa alas kandang.
– Makanan yang kurang memenuhi syarat, kurang zat besi (anemi).
– Babi banyak mengalami stress.
Dan secara khusus di bawah ini dikemukakan scours pada babi yang berumur lebih dari 3 hari, umur 3 bulan, babi sapihan dan babi umur 14 minggu atau lebih.
  1. Babi yang berumur lebih dari tiga hari
– Babi umur tiga hari yang menderita scours tentu saja bukanlah akibat anemi, melainkan disebabkan karena mereka terlampau banyak air susu atau tanpa pembatasan dalam pemeberian air.
– Kemungkinan kedua akibat infeksi E. coli.
– Banyak masalah semacam ini menimpa anak babi secara akut, tanpa terjadi scours tetapi tiba-tiba anak babi mati mendadak.
– Mungkin karena pada waktu itu induk sedang birahi, sehingga sementara anak babi menderita scours.
  1. Babi yang umurnya 3 bulan
Scours yang menimpa pada anak babbi periode tersebut disebabkan karena :
– Anemi, atau anak babi diberikan makanan yang kandungan serta kasarnya terlampau tinggi.
– Anak babi kedinginan, kondisi lembab dan lantai tiada alas sedikit pun.
– Pada saat itu induk sedang birahi.
Birahi tenang
Pada ternak babi sering terjadi apa yang disebut birahi tenang (quiet heat) di mana babi yang bersangkutan tidak menunjukkan tanda-tanda birahi yang bisa diamati. Perubahan hormone sering dialami pada induk kurang lebih 3 minggu setelah beranak. Perubahan hormonal pada susunan air susu ini sangat khas seperti yang terjadi pada induk yang mengalami birahi yang normar.
Perubahan inilah yang bisa mengakibatkan anak babi menderita diarhee.
  1. Pada saat babi disapih
Scours yang terjadi pada babi sapihan ini akibat pergantian makanan yang mendadak. Untuk mengatasi hal ini perlu diadakan persiapan terlebih dahulu, yaitu anak babi sapihan tadi demi sedikit dilatih untuk diberikan makanan grower.
  1. Pada babi yang lebih besar, umur 14 minggu atau lebih
Scours yang menimpa babi fase ini bisa disebabkan oleh berbagai infeksi, misalnya cacing, salmonella, disentri.
Berbagai tipe scours atau enteritis
1) Non-infections enteritis
Jenis penyakit scours semacam ini ada berbagai macam sebab, antara lain produksi air susu induk yang terlampau tinggi, kekurangan vitamin-vitamin, anemi, perubahan temperatur yang sangan besar, perubahan ransum makanan secara tiba-tiba.
  • Produksi susu yang terlampau banyak
Ransum yang kandungan energinya terlampau tinggi dan diberikan kepada induk dalam jumlah yang berlebihan akan menimbulkan efek negative bagi anak-anaknya yang sedang disusui. Sebab pemberian ransum samacam itu selama seminggu menjelang dan sesudah melahirkan akan menimbulkan produksi susu induk menjadi terlampau banyak. Peristiwa ini akan berakibat kepada anak-anak yang sedang menyusui menjadi scours.
Untuk mengatasi hal ini, maka sebaiknya pemberian ransum tersebut perlu diatur baik-baik. Yaitu dua tiga hari sebelum beranak sampai dengan satu minggu sesudah melahirkan , jumlah makanan yang diberikan harus dibatasi.
  • Kekurangan vitamin-vitamin
Penderita scours bisa disebabkan pula akibat ransum makanan kekurangan vitamin-vitamin, terutama vitamin B, A, dan E.
Hal ini bisa diatasi dengan menambahkan vitamin-vitamin tersebut dalam ransum makanan anak babi ataupun kepada ransum induk.
  • Anemi
Anak babi yang menderita anemi akan menjadi scours juga. Untuk mengatasi hal ini anda dapat melakukan hal yang telah diterangkan pada penyakit anemi diatas.
  • Perubahan temperatur
Akibat adanya perubahan temperatur secara mendadak dan ekstrim yaitu terlampau tinggi atau rendah adalah merupakan salah satu faktor pula terjadinya scours, lebih-lebih bila kandang itu ventilasinya tidak sempurna.
  • Perubahan makanan yang tiba-tiba
Perubahan ransum makanan anak babi yang terjadi secara mendadak akan mengakibatkan anak babi menderita diarhee (scours). Untuk mengatasi hal ini, pemberian ransum anak babi pada setiap fase bisa diatur seperti dijelaskan di atas.
2) Infectious enteritis
a) Non-specifix enteritis
Yaitu jenis penyakit enteritis yang disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, yang berjangkitan terutama akibat stress.
b) Necrotic enteritis
Jenis penyakit ini sering disebut “necro” yang penyebabnya bakteri salmonella.
Penyakit ini banyak menyerang babi umur 2 – 6 bulan.
Gejalanya
  • Kotoran berbau busuk, dan berwarna hitam keabu-abuan.
  • Kotoran sering bercampur dengan jaringan-jaringan usus yang telah lepas.
c) Disentri
Yaitu jenis penyakit enteritis yang infeksinya sudah serius. Kadang-kandang penyakit ini disebut “bloody” atau “black scours”. Penyebab penyakit ini ialah bakteri vibrio atau salmonella. Bakteri ini bisa ,mengakibatkan mencret berdarah yang sangat membahayakan atau bisa menimbulkan kematian.
d) Transmissible Gastro Enteritis (TGE)
Yaitu jenis penyakit enteritis yang disebabkan oleh virus. Yang bisa diserang oleh penyakit ini ialah babi segala umur. Babi-babi muda yang menderita penyakit TGE ini bisa mengalami kematian sampai 100%.
Pencegahan dan pengobatan
– Menjaga kebersihan kandang dengan menggunakan desinfektan (Lysol, creolin) lantainya dan kandang selalu kering.
– Terhadap anak babi, selalu diberi alas dari rumput, brambut, serbuk gergaji, yang selalu diganti agar mereka tetap hangat dan bersih.
– Makanan diberi TM 10, atau Aureomycin.
  1. 4. White scours (Mencret putih)
Penyebab
Escherichia coli, yaitu bakteri yang bisa masuk lewat tali pusat yang sakit. Dan biasanya babi kecil mudah menderita mencret puti akibat mereka kedinginan, lantai lembab, makanan induk jelek, atau anak babi terlampau banyak menyusu.
Gejala
– Kotoran merupakan cairan yang berwarna putih seperti kapur.
– Tidak mau menyusu induk Nampak sangat lemah.
– Kepala ditundukkan.
Penyebab dan pengobatan
– Kandang diusahakan selalalu kering dan hangat, latai diberi alas dan sering diganti, tidak sampai mejadi kotor ataupun basah aibat air kencing.
– Makanan diberi tambahan aureomycin
Catatan : white scours biasanya diikuti penyakit anemi, TGE, Necro, disentri dan penyakit lainnya.
  1. 5. Cholera
Penyebab : virus
Gejala
– Temperatur tubuh naik 104 – 108º F.
– Nafsu makan hilang dan lemah, sehingga tidak mau makan, tetapi minumnya banyak.
– Terhuyung-huyung.
– Tubuh bagian bawah (sekitar perut) berwarna merah keunguan seperti Erysipelas.
– Kandang-kadang seperti kedinginan, yang menyebabkan babi berjejal-jejal atau saling berhimpitan.
Pencegahan dan pengobatan
– Vaksinasi dengan serum anti cholera babi atau rovac hog cholera. Sesudah babi umur 6 minggu, diulangi setahun sekali. Babi-babi dara atau induk sebaiknya 3 minggu sebelum dikawinkan, sedang pejantan bisa sewaktu-waktu.
  1. 6. Agalactia
Agalactia ialah kegagalan dalam memproduksi air susu. Jenis penyakit ini khusus diderita oleh babi-babi induk yang habis beranak. Penyakit ini Nampak jelas 24 jam sehabis induk itu melahirkan. Babi-babi yang menderita agalactia ini akhirnya tidak mampu mensuplai air susu kepada anak-anaknya, karena produksi air susu tak bisa keluar lagi, sebab sekresi oxytocin tidak mencukupi. Kekurangan oxytocin ini bisa diatasi dengan memberikan injeksi oxytocin dengan dosis 5 – 10 I.U. secara intramuskular.
Penyebab
Penyebab penyakit ini adalah tidak selalu sama, atau dengan kata lain ada berbagai macam sebab :
  1. Karena toxic (racun) yang terdapat di dalam usus akibat konstipasi yang diderita induk yang bersangkutan, yang kemudia diikuti hilangnya nafsu makan dan kandang-kadang panas yang terlampau tinggi. Untuk mengatasi konstipasi ini, babi bisa diberikan obat peluncuran atau urus-urus dengan garam inggris.
  2. Akibat peradangan pada usus.
Peristiwa ini mengakibatkan babi induk merasa sakit, sehingga nafsu makan berkurang, temperatur tubuh tinggi 106º F, dan dari vulva keluar cairan berwarna kuning atau kemerahan. Ambing menjadi bengkak, keras, berwarna merah, panas dan sakit. Penderita ini bisa diobati dengan penstrep. Karena adanya peradangan uterus (metritis) dan ambing (mastitis), dan mengakibatkan kegagalan kegagalan keluarnya air susu (agalactia). Maka penyakit ini juga disebut MMA kompleks.
Gejala umum :
– Gejala pertama biasanya Nampak 3 hari sesudah melakukan, walaupun sering dapat terlihat sebelum anak-anaknya disapih.
– Temperatur 103 – 106º F.
– Babi tidak mau makan, air susu sedikit atau gagal sama sekali.
– Dari vagina keluar nanah berwarna keputihan atau kekuning-kuningan.
– Anak babi mencret.
– Kadang-kadang tidak diketahui sampai anak babi mati kelaparan.
  1. 7. Brucellosis (Keguguran menular)
Pada babi, penyakit ini bisa kronis atau subkronis. Yang diserang alat reproduksi (uterus, ambing, testes).
Penyebab
Gejala
Gejala penyakit ini sulit dilihat, di mana tidak semua penderita itu selalu mengalami abortus dan sebaliknya yang bukan brucellosis pun bisa abortus. Akan tetapi secara umum bisa dilihat tanda-tanda.
– Keguguran, anak mati di dalam kandungan atau sangat lemah.
– Pada jantan atau induk bisa steril yang sifatnya bisa sementara atau permanen, kadang-kadang lumpuh pada kaki belakang, pada babi jantan ada gejala radang testes.
Pencegahan dan pengobatan
– Sanitasi (pejagaan kesehatan), dan belilah bibit yang bebas dari penyakit brucellosis.
– Vaksinasi.
– Obat belum ditemukan.
  1. 8. Pneumonia (Penyakit radang paru-paru)
Pneumonia suatu penyakit yang bisa menyerang segala binatang termasuk ternak babi. Bila tanpa pengobatan, 50 – 75% akan mati.
Penyebab
– Microorganism
– Virus
– Cacing paru-paru (lungworms)
Yang mempercepat berjangkitnya penyakit ini ialah akibat ternak stress, sehingga mudah infeksi yang menimbulkan gejala-gejala sebagai berikut :
– Batuk-batuk, pernapasan berbunyi dan terengah-engah, pernapasah cepat dan dangkal.
– Pada penderita kaki Nampak terbuka lebar.
– Konstipasi
– Nafsu makan hilang
– Temperatur tubuh tinggi, moncong dan hidung panas serta kering.
– Kulit dan bulu kasar, kering.
Pencegahan dan pengobatan
– Pemeliharaan yang baik terutama kebersihan di dalam kandang dan sekelilingnya.
– Yang sakit ditempatkan di tempat yang bersih, dan tidak berangin.
– Makanan yang mudah dicerna, dan diberi aureomycin atau TM 10, guna mencegah infeksi pada saat stress.
– Pengobatan dengan terramycin atau sulmet injeksi. Agribon (mengandung sulfadimenthoxine, vitamin A dan K)
Catatan :
Dosis agribon 1 gr agrinon untuk 10 kg berat badan, setelah 24 jam 0,5 gr/50 kg berat badan setiap hari selama 3 hari berturut-turut atau sampai sembuh.
  1. 9. Cacar (Swine Pox)
Penyakit cacar banyak menyerang babi-babi muda dengan perantara kutu, serangan atau kontak langsung.
Penyebab : virus
Gejala
– Nampak bintil-bintil kecil berwarna merah, terutama di telinga, leher pada tubuh bagian bawah dan paha bagian sebelah dalam.
– Akhirnya bintil-bintil tumbuh dengan cepat, masing-masing merupakan gumpalan yang keras, pada bagian atas.
– Beberapa hari kemudian bintil-bintil itu merupakan lepuh sebesar kedelai yang berisikan cairan jernih tetapi kemudian menjadi seperti darah putih atau nanah.
– Lepuh-lepuh segera mongering dengan meninggalkan bekas, seperti kudis yang berwarna coklat tua.
– Sebelum kulit berganti, panas tubuh meningkat dan tidak mau makan.
Pencegahan dan pengobatan
– Pemeliharaan yang baik, serta kebersihan akan menolong keselamatan babi, terhindar dari penyakit tersebut. Makanan diberi TM 10.
– Berikan penstrep, terramycin injeksi, ditambah vitamin A.
  1. 10. Erysipelas
Penyebab
Erysipelothrix insidiosa. Bakteri ini sering terdapat pada usus, kelenjar leher, radang empedu.
Gejala
Penyakit ini ada 3 bentuk
  1. Akut
– Meyerupai babi yang menderita cholera.
– Temperatur tubuh tinggi
– Penderita menyendiri dan selalu berbaring tetapi ada yang masih gesit dan bila didekati merasa terganggu, lalu pindah tempat sambil teriak kesakitan.
– Bila berjalan, kaki menunjukkan kekakuan, terhuyung-huyung atau jatuh dan kadang-kadang lumpuh.
– Nafsu makan turun atau tidak makan sama sekali.
– Kotoran keras, dan bagi babi muda kotoran tersebut encer.
– Kulit (diamod skim) nampak pada hari ke-2 – 3 sesudah inkubasi, yaitu kulit luka kecil, berwarna merah muda, kemudian menjadi ungu tua, bila diraba keras. Biasanya diamod skin ini terdapat pada bahu, tubuh samping dan perut.
– Babi sering mendengkur, karena hidung bengkak.
– Umumnya penyakit ini diikuti kematian yang tiba-tiba.
  1. Subakut
Tanda-tandanya seperti pada yang akut, tetapi tidak begitu ganas bila disbandingkan dengan yang akut. Temperature tidak begitu tinggi, dan sering-sering nafsu makan masih normal.
Beberapa luka Nampak seperti segiempat, apabila mongering, pada telinga, ekor, bisa megelupas.
Bila penyakit ini tidak berkompilasi, biasanya sembuh.
  1. Kronis
Yang kronis biasanya mendapat serangan local seperti pada jantung atau persendian lutut, tumit kaki belakang dan kuku, sehingga mengakibatkan kelumpuhan.
Pencegahan dan pengobatan
– Karena organism itu dapat menyebar di dalam tanah ataupun pada ternak, maka jenis penyakit ini agak sulit dilakukan pencegahan.
– Bila ada yang menderita serangan peyakit tersebut, harus segera diisolasi.
– Obat dengan serum Erysipelas (susserin), injeksi subcutaneous atau intravenous. Dosis tergantung berat badan, 10 – 40 cc atau lebih. Bila diberi sulfa, penicillin, streptomycin.
  1. 11. Penyakit mulut dan kuku (Apthae Epizotticae = AE)
Penyakit ini mudah menyerang pada babi, lembu dan kambing.
Penyebab : virus, oleh karena itu cepat menular.
Gejala  Nampak perubahan pada mulut dan kaki.
– Selaput lender dalam mulut, bibir, langit-langit, lidah, dan pada gusi timbul lepuh merah yang berisi cairan kuning (sesudah 2 – 3 hari)
– Sering, dari mulut keluar ludah seperti benang bercampur lender atau berbuih.
– Timbul luka-luka di antara kuku dan kulit-kulit kaki, akibatnya pincang dan berbaring saja.
– Kadang-kadang pada ambing timbul luka atau lempuh juga.
– Temperatur tubuh naik, dan nafsu makan hilang
Pencegahan dan pengobatan
– Semua kandang beserta peralatannya harus selalu bersih, diesinfektir (cairan caustic soda 2%).
– Ternak yang mati akibat AE harus dikubur.
– Vaksinasi setahun sekali.
– Obat antibiotic (Penicillin Powder), obat khusus belum diketahui.
  1. 12. Penyakit ngorok (Septichaemia Epizootica = S.E Shipping Fever)
Penyebab : bakteri pasteurella multocida.
Gejala
– Penyakit ini berjangkit amat cepat, berlangsung 1 minggu atau kurang.
– Temperatur naik.
– Sesak napas karena terdapat lender dalam pernapasan, terdengar suara ngorok, dan terlihat kebengkakan pada bagianleher.
– Kadang-kadang mencret.
– Yang akut terus mati dengan tiba-tiba tanpa didahului oleh suatu gejala apa pun.
Pencegahan dan pengobatan
– Menjaga terhadap ketahanan tubuh babi, antara lain dengan jalan memberikan makanan yang babik, ternak banyak istirahat, jangan sampai terjadi stress.
– Memisahkan babi-babi yang sakit.
– Pengobatan oleh Dokter Hewan, pada tingkat-tingkat permulaan bisa diobati dengan obat antibiotic, misalnya penicillin injeksi intramuscular, sulmet injeksi, antiserum.
Catatan
Dosis sulmet : hari pertama 2,5 cc per 5 kg berat badan.
Hari-hari selanjutnya 1,25 cc per 5 kg berat badan.
Suntikan diberikan secara intravenous, subcutaneous, intramuscular
  1. 13. Anthrax (Radang limpa)
Penyebab : Bacillus Anthracis. Baksil ini dapat berubah menjadi spora dan dapat hidup lama di dalam tanah.
Gejala
– Angka kematian tinggi dan berlangsung dalam waktu yang singkat 8 – 16 jam.
– Tenggorokan bengkak.
– Temperatur tinggi dan nafsu makan hilang.
– Urat-urat kaku atau lemah.
– Kotoran bercampur darah.
Pencegahan dan pengobatan
– Penderita harus segera diisolasikan.
– Kandang dan alat-alat lainnya harus selalu dibersihkan.
– Vaksinasi.
– Obat tetracycline.
Catatan
Pada lembu dan kambing penyakit ini sangat kuat, hewan yang bersangkutan ada kemungkinana Nampak sehat, hanya beberapa jam kemudian terus mati.
Oleh karena itu bila ada kematian yang tiba-tiba harus segera melapor kepada dinas yang berdekatan.
  1. 14. Tetanus
Penyebab : Clostridium tetani. Biasanya terjadi akibat suatu luka (bekas kastrasi, gigitan teman)
Gejalanya bisa dibedakan menjadi dua fase :
– Fase pertama
  • Timbul kekejangan pada rahang dan tenggorokan, kemudian kekejangan ini cepat menyebar ke seluruh tubuh. Akibat (yang diderita) lebih lanjut babi tidak bisa mengunyah dan menelan makanan.
  • Bergerak pun mereka sulit, karena semua persediaan menjadi kaku dan tidak berfungsi lagi.
– Fase kedua
  • Mulut dan mata terkunci, dan tidak bisa terbuka lagi.
  • Perut mengeras dan kejang, akibatnya sulit bernafas.
  • Kepala menengadah, ekor terangkat ke atas.
  • Kotoran dan air kencing tertahan.
Pencegahan dan pengobatan
– Alat-alat yang dipakai untuk kastrasi harus steril.
– Luka-luka bekas kastrasi, harus diberi obat antibiotic.
– Suntikan dengan serum tetanus.
Catatan
Basil tetanus biasanya terdapat di dalam tanah dan kotoran kuda.
Bila hasil itu masuk ke dalam luka, maka mereka membuat toxin (racun). Akibatnya, bila syaraf yang terkena, akan timbul kekejangan setempat atau seluruh tubuh. Akhirnya binatang yang menderita mati tercekik, karena sekat rongga badan kejang, tidak bisa bekerja lagi.
  1. 15. Footrot (Penyakit kuku busuk = Radang kuku)
Penyebab : karena babi selamanya berada di dalam kandang yang lantainya selalu basah sehingga mempermudah organism hidup dan masuk pada celah kuku.
Gejala
– Nampak ditempatkan pada kandang yang bersih dan lantai yang kering.
– Luka ditaburi dengan antibiotic, Penicillin powder, SA, Sulmet injeksi, Terramycin injeksi. Sebelum luka tersebut diobati, harus dibersihkan terlebih dahulu.
  1. 16. TBC (Tuberculosis)
Penyakit ini merupakan penyakit yang kronis, penyebaran sangat lambat.
Penyebab : Mycobacterium tuberculosis.
Tanda-tanda
– Nafsu makan berkurang dan kehilangan berat badan.
– Pada babi dewasa, persediaan bengkak.
– Batuk-batuk dan pernapasan terganggung.
– Infeksi kelenjar limpa, ambing, alat kelamin, pusat syaraf, alat pencernaan.
Pencegahan dan pengobatan
– Ternak yang menderita diisolasi.
– Kebersihan kandang harus selalu dijaga, misalnya dengan menggunakan desinfektan.
– Diobati dengan antibiotic (streptomycin injeksi, Penicillin).
  1. 17. Penyakit cacing bulat (Ascarids = Roundworm)
Cacing ini bentuknya seperti cacing pada manusia. Bentuknya bulat sebesar pensil. Cacing ini banyak menyerang babi-babi muda dan banyak menimbulkan kematian.
Gelaja
– Timbul gejala pneumonia, bila mendapat serangan larva hebat.
– Pertumbuhan sangat lambat.
– Anak babi menjadi kurus dan perut buncit.
– Mencret, dan nafsu makan berkurang.
– Selaput mata pucat.
Pencegahan dan pengobatan :
– Kandang harus bersih, dengan disemprot desinfektan (Lysol,kreolin).
– Kalau anak babi hendak dilepas, jangan dilepas di tempat yang biasa untuk mengumbar babi-babi dewasa.
– Pengbatan dengan piperazine yang dilarutkan air. Dosis tergantung berat badan, biasanya hal ini ada petunjuk dari perusahaan.
  1. 18. Kudis (Scabies)
Penyebab :
semacam kutu kecil, yang tidak terlihat oleh mata.
Ada dua macam kutu, yaitu:
  • Menyebabkan kulit yang digigit itu berlubang, merusakkan kulit dan kutu itu mengeluarkan racun.
  • Kutu menggigit, terus menghisap darah tanpa membuat lubang pada kulit.
Sering keduanya berkombinasi, sehingga mengakibatkan penderitaan menjadi lebih parah.
Penyakit ini mudah berjangkit atau menular pada babi muda ataupun babi yang kekurangan zat-zat makanan yang diperlukan.
Gejala :
– Penderita makannya tidak sebagaimana mestinya, agak berkurang, sehingga pertumbuhan kurang normal.
– Nampak suatu goresan yang gatal, karena kutu menembus kulit.
– Pada permukaan kulit yang sakit timbul keruping yang tebal, keras, kencang, dan kulit berkerut (melipat).
Pencegahan dan pengobatan :
– Ternak yang sakit harus diisolasi, supaya tidak menular kepada yang lain.
– Kandang harus dibersihkan, disemprot atau didesinfektir dengan Lysol, kreolin. Sebab walaupun babi yang sakit diobati, apabila kandang masih kotor atau pada dinding masih banyak kutu-kutunya, maka pengobatan tersebut kurang menguntungkan.
– Pengobatan dengan Scabisix atau obat lainnya seperti zalf yang dilumaskan pada kulit dan diulangi sampai sembuh.
Dosis : 10 cc Scabisix dicampur 1 liter air (30 hari sebelum dipotong tidak boleh digunakan).